Forum Penyelamatan Lut Tawar (FPLT) menghimbau kepada masyarakat sekitar Lut Tawar dan wisatawan yang berkunjung untuk tidak membuang sampah ke danau
LOGIN   |   REGISTER   |    FORGET PASSWORD

   
Minggu, 28 Juni 2009 , 11:02:00

   

Pemakaian Tutur di Gayo

Bagaiman Sudah ?




Medan- Tutur sebagai simbol sosial masyarakat Gayo, memiliki pelbagai fungsi di tengah kebedadaannya dalam masyarakat Gayo, diantaranya menyatakan asal, kedudukan dan karakter seseoarang. Yang lebih penting, kesantunan dan adab dalam berhubungan terutama dalam komunikasi lisan tergambar melalui tutur. Tutur di Gayo sangat kental dengan kandungan nilai-nilai Islam, jelas Yusradi Usman al-Gayoni dalam Seminar Internasional Universitas Sumatera Utara – Universitas Malaysia, tanggal 29 Juni 2009 di Medan.


Apa yang disampaikan Yusradi al-Gayoni merupakan hasil penelitiannya terkait tutur pada bulan Maret yang lalu di empat kecamatan di Takengon: kecamatan Bebesen, kecamatan Kebayakan, kecamatan Lut Tawar, dan kecamatan Pegasing. “Saat ini, penutur bahasa Gayo tidak lagi mengenal tutur dengan baik. Al-Gayoni mencotohkan, terutama generasi muda, mereka tidak akan tahu, apa yang dimaksud dengan tutur patut, mantut, ikut-ikut dan gasut? Atau tutur muperdu, museltu, dan tutur uru-uru?. Begitu juga dalam penggunaannya, tutur sudah jarang dipakai. Bahkan, tutur mulai ditinggalkan. Jadi, tutur akan hilang, tinggal menunggu waktu ” kata al-Gayoni.


Boleh dikatakan, penelitian ini merupakan yang terlengkap mengulas tentang tutur, mulai dari definisi tutur, munculnya tutur, klasifikasi tutur, pembagian tutur, fungsi tutur sampai pada fenomena penggunaan tutur yang berlangsung sekarang. Secara umum, penyebab kurangnya penggunaan tersebut berasal dari dua faktor, yaitu faktor internal; pengguna tutur yang bersangkutan (orang Gayo/yang tinggal di Gayo) yang kurang mau tahu dan “tidak mau tahu” prihal kebudayaanya, termasuk perhatian dan upaya pemerintah kabupaten yang masih rendah. Kedua, faktor eksternal, penyebab yang datang dari luar seperti pemakaian bahasa Melayu (Indonesia), pengaruh budaya luar akibat heterogenitas dan interaksi budaya, pengaruh media terutama televisi, dan masih banyak lagi penyebab lainnya. Akibanya, beberapa bentuk tutur telah digantikan bentuk baru seperti bapak, mamak, papa, mama, bunda, tante, dan lain-lain.


Yusradi al-Gayoni berharap, pemerintah kabupaten Aceh Tengah lebih maksimal dalam pendokumentasian apa pun menyangkut kebudayaan Gayo (proyek non-fisik). “Kita masih “miskin” dokumentasi,” kata Yusradi. “Begitu juga dengan tutur, perlu dilakukan upaya sosialisasi, terutama kepada generasi muda, pendokumentasian dengan pembukuan, dan pelestarian dengan menggiatkan pemakaian dan memasukannya dalam materi muatan lokal di dunia pendidikan. Kalau tidak dilakukan upaya yang serius dan berkelanjutan, apa pun yang berkenan dengan suku dan daerah ini (kebudayaan), akan hilang pada masa mendatang. Hal ini tak ubahnya seperti kekeberen, bermula dari kekeberen, dan kisah suku ini akan berakhir pula dalam bentuk kekeberen,” jelas al-Gayoni.




 
 
(0) Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
     P0F1M