|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Senin, 15 Juni 2009 , 11:23:00
|
| |
|
|
www.rakyataceh.com
Grup Musik Debu yang Ngebet Jadi Warga Negara Indonesia
Senin, 15 Juni 2009 | 09:17
Wajibkan Bahasa Indonesia, Siapkan Album untuk Selamatan
ZULHAM MUBARAK, Jakarta
Sepuluh tahun lebih tinggal di Indonesia membuat para personel grup musik religius dari Amerika Serikat, Debu, mencintai negeri ini. Karena itu, mereka ngebet ingin menjadi WNI (warga negara Indonesia). Persyaratan yang terdiri atas 12 tahap pun mereka lakoni.
Dari luar, rumah bercat putih di Bumi Pusaka Cinere (BPC) itu terlihat lengang. Rumah berlantai dua tersebut menempati lahan sekitar 200 meter persegi.
Di halaman depan tampak dua bocah perempuan sedang bermain. Umur mereka enam tahun dan lima tahun.
Dari kejauhan terdengar mereka bercakap-cakap dengan bahasa Inggris. Namun, ketika Jawa Pos mendekati mereka, salah seorang menyapa ramah dengan bahasa Indonesia.
''Ada yang bisa saya bantu?'' sapa si bocah yang berumur 6 tahun. Dia lantas membuka pintu pagar dan mempersilahkan Jawa Pos (Grup Rakyat Aceh,red) masuk ke halaman rumahnya.
Tak lama berselang, seorang pria bule berambut gondrong keluar dari dalam rumah dan menyapa wartawan grup koran ini dengan ramah. Pria itu mengenakan baju koko dan bertelanjang kaki.
''Assalamualaikum, silahkan masuk. Sudah saya tunggu. Itu putri saya, Amatullah. Maaf, saya baru saja selesai salat Asar,'' ujarnya, sembari memperkenalkan diri sebagai Mustafa ibn Daood. Dia menyodorkan tangan untuk bersalaman, lantas mengajak wartawan grup koran ini ke ruang tamu.
Mustafa adalah vokalis grup musik Debu. Grup musik yang hampir semua anggotanya dari negeri Paman Sam itu dikenal luas sebagai grup musik rohani karena kerap membawakan musik bernuansa Islam.
Ruang tamu berukuran 4 x 5 meter itu menggambarkan nuansa islami yang memang tak lepas dari aktivitas sehari-hari para personel Debu. Kaligrafi memenuhi bagian-bagian tembok rumah. Dua gitar gambus tergeletak di salah satu sudut ruangan. ''Apa kabar? Sudah salat Asar? Kalau belum, salat dulu saja baru wawancara,'' ujarnya membuka pembicaraan.
Setelah berbasa-basi layaknya warga Jakarta pada umumnya, Mustafa mulai menceritakan kisahnya. Menurut dia, saat ini dirinya dan 10 personel Debu sedang berupaya menjadi WNI. Dikatakan bahwa prosesnya tinggal dua langkah untuk perpindahan kewarganegaraan.
''Dari 12 tahap proses perpindahan kewarganegaraan menjadi WNI, sudah dilalui sekitar 10 tahap. Tinggal dua tahap lagi,'' kata Mustafa yang diamini Daood Abdullah, sang drummer yang ikut bergabung dalam wawancara.
Mustafa berharap, semua keluarga personel Debu bisa segera menjadi WNI. Mengapa Indonesia? Menurut dia, personel grup musik Debu memilih tinggal di Indonesia karena dinilai sebagai negeri yang damai serta berpenduduk mayoritas muslim. Apalagi, setelah tinggal lebih dari 10 tahun di negeri ini, semua personel merasa tidak menemukan alasan untuk tidak jatuh cinta.
''Semua ada di sini. Sebut saja dari a sampai z pasti ketemu. Belum lagi penduduknya yang ramah dan kondusif bagi muslim seperti kami,'' terang Mustafa.
Warga negara AS yang sejak lahir beragama Islam ini pindah ke Indonesia pada 1999. Sebelumnya mereka adalah satu jamaah.
Menurut Mustafa, mereka memilih Indonesia berawal dari mimpi sang ayah yang juga pemimpin kafilah, Syekh Fattah, mengenai sebuah negeri yang hidup damai dan sebagian besar penduduknya muslim. Setelah menelusuri di internet, ternyata negeri yang seperti itu adalah Indonesia.
Namun, ketika itu mereka tidak tahu letak Indonesia. Melalui jaringan internet pula mereka menemukan situs seorang Indonesia dan kemudian menjalin komunikasi. Setelah menemukan referensi yang lengkap, para jamaah Syekh Fattah eksodus dari negara bagian New Mexico, AS, ke Indonesia.
Pada 1999 hingga 2000, seluruh personel Debu yang merupakan bagian dari jamaah pimpinan Syekh Fattah eksodus ke Indonesia. Ketika itu mereka disponsori Universitas Islam Makassar (UMI) dan menjadi tenaga pengajar di salah satu pesantren di sana. Mereka sempat tinggal sekitar enam bulan di Makassar sebelum akhirnya berpindah ke Jakarta.
''Ketika itu kami sempat menyambi bertani. Bahkan, saya sampai kena sabit. Waktu tiba di sini, kafilah kan hanya bermodal nekat tanpa kenal siapa-siapa,'' ujarnya sambil menunjukkan bekas luka di kaki kiri.
Setelah berpindah ke Jakarta, mereka mulai merintis grup musik Debu. Kebetulan, saat di AS mereka juga teman satu grup musik.
Berbeda dengan kelompok lain, Debu memiliki ciri khas yang mandiri. Lirik-liriknya sufistik, mistis, lahir dari kalbu yang mabuk cinta, dan kerinduan kepada Allah. Dalam sepuluh tahun mereka telah melahirkan lebih dari 50 lagu bertema sufistik dengan ragam aransemen.
Daood Abdullah pun punya kisah khas ketika mengenang karir musiknya di Indonesia yang memicu keinginan untuk menjadi WNI. Pemuda berusia 21 tahun itu baru berusia 10 tahun ketika tiba di Indonesia.
Selama melakoni masa remaja di sini, dia mengaku menemukan semua yang dicari. Terutama rasa nyaman dan kedekatan secara batiniah dengan negeri ini. ''Kalau ditanya apa sudah mantap menjadi WNI, tak perlu berpikir panjang, langsung saya jawab lantang, mantap,'' selorohnya.
Pemuda yang tak pernah lepas dari kacamata hitam ini mengaku bisa menemukan Islam yang sebenar-benarnya di negeri ini. Berbeda dengan menjadi Islam di negeri Paman Sam yang merupakan minoritas dan kerap sulit mengekspresikan diri. ''Di sini saya malah bisa punya banyak fans, lihat saja di Facebook,'' katanya dengan nada bergurau.
Mustafa mengatakan, pihaknya membuat standar sendiri untuk menjadi WNI. Antara lain, mewajibkan seluruh anggota mengutamakan penggunaan bahasa Indonesia dalam setiap latihan dan rapat. Bahkan, ketika mendapat job, mereka semaksimal mungkin berkomunikasi dengan audiens maupun siapa saja yang ada di tempat itu dengan bahasa Indonesia.
''Bahkan, ada aturan ketat bahwa kalau tidak mau menguasai bahasa Indonesia, dipastikan tidak bisa ikut dalam grup musik ini,'' ujarnya serius.
Pada tahun-tahun pertama mereka tinggal di Indonesia, kewajiban berbahasa Indonesia itu memang sempat membuat mereka kesulitan. Mustafa teringat para personel Debu sering memaksakan berbahasa Indonesia sampai-sampai terpeleset dalam berkomunikasi.
''Misalnya, saya pernah pesan susu keledai dalam sebuah tempat yang langsung disambut tawa. Padahal, yang saya maksud susu kedelai. Sering terbalik kata-kata, seperti kucing, kencing, dan kancing,'' kenangnya lantas tertawa ringan.
Menurut dia, berkarir musik di negeri ini tanpa mendapat pengakuan WNI kerap membuat konsentrasi terpecah. Sebab, visa yang mereka gunakan kerap habis dan akhirnya harus tinggal di luar negeri dulu (biasanya di Malaysia) untuk jeda tinggal sebelum bisa mendapatkan visa lagi. Biaya yang dihabiskan untuk transportasi dan tetek bengek pun kerap membengkak. ''Apalagi, keluarga besar kafilah ini total 41 orang. Jadi, jadwal dakwah kerap terganggu,'' terangnya.
Personel grup musik Debu adalah Mustafa ibn Daood (vokal), Muhammad Saleem (suling), Daood Abdullah (drummer/perkusi), Ali Mujahid Abdullah (bass), Layla Wafiyah (harpa), Fatimah Husniah (baglama dan biola), Shakurah Yasirah (biola), Najmah Hakimah (komposer), Naimah Mahmoud (mandolin), Naseem Nahid deVoe (perkusi), ditambah dua personel lokal, yakni Dhimas Ramadhan (gitar) dan Abdul Wahab (vokalis, perkusi).
Hampir semua personel tersebut kini getol memproses upaya menjadi WNI. Karena rata-rata mereka sudah berkeluarga, otomatis anak-anak mereka yang kebanyakan lahir di Indonesia juga akan menjadi WNI. Terkait dengan masa depan akan-anak mereka, Mustafa mengaku mantap untuk menjadikan mereka WNI tulen.
''Apalagi, mereka sejak lahir telah tinggal di sini. Jadi, sudah tidak perlu lagi ada upaya pengenalan. Mereka bisa dibilang lebih kenal negeri ini dibanding orang tuanya,'' tuturnya.
Menurut Mustafa, setelah resmi menjadi WNI nanti, grup musik Debu sepakat merilis album baru. Apalagi, mereka telah vakum dua tahun terakhir. Album terakhir mereka berjudul Hap Beraber (Ucapkanlah Bersama) dirilis pada 2007.
''Memang album terbaru disiapkan sebagai selamatan jika kami telah bisa menjadi WNI. Ada 14 lagu yang disiapkan. Nantilah kalau sudah waktunya kami kabarkan,'' ujarnya mantap. (*)
|
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|