Forum Penyelamatan Lut Tawar (FPLT) menghimbau kepada masyarakat sekitar Lut Tawar dan wisatawan yang berkunjung untuk tidak membuang sampah ke danau
LOGIN   |   REGISTER   |    FORGET PASSWORD

   
Kamis, 11 Juni 2009 , 11:51:00

   
BERITA TERKAIT

Bahasa adalah identitas sebuah bangsa. Dengan mudah, kita akan mengetahui orang Indonesia dari bahasa yang digunakan masyarakat-nya. Begitu juga halnya dengan urang, suku Gayo; melalui bunyi, bentukan kata, frasa, kalimat dan aspek lain dari bahasa ini, kita dapat mengetahui bahwa yang bersangkutan adalah orang Gayo. Namun, penulis menemukan beberapa kejanggalan prihal penulisan kota kata bahasa Gayo terutama kata Blang Kejeren saat membaca majalah bulanan Lentayon Edisi I, Suara Seribu Bukit. Thn III – 2009. Boleh dikatakan, Ini pertama kali penulis membaca majalah Lentayon. Barangkali, bagi sebagian pihak, hal ini adalah hal yang biasa dan sepele.

Namun, bagaimana pun, dalam jangka panjang, hal tadi akan mengakibatkan luntur dan hilangnya identitas sosial orang Gayo. Dikarenakan, orang Gayo memiki bahasa, adat istiadat dan budaya sendiri yang membedakannya dengan suku lainnya yang ada di nusantara ini.

Dalam konteks morfologi, penulisan kata pada bahasa Gayo, jarang ditemukan pola KK (konsonan-konsonan). Untuk kasus bahasa daerah di Aceh, pola seperti itu dapat kita temukan salah satunya dalam bahasa Aceh. Sebaliknya, dalam bahasa Gayo lebih berpola KV (konsonan vokal) atau VK (vokal konsonan) seperti dalam kata gule, kupi, ume, uwe, dan lain-lain. Dengan demikian, kata blang harusnya ditulis dengan belang. Jadi, Blang Kejeren ditulis menjadi Belang Kejeren. Demikian halnya dengan nama kampung atau tempat yang sebelumnya ditulis dengan kata blang, harusnya ditulis jadi belang.

Lebih lanjut, bila kita  merujuk ke Kamus Bahasa Gayo – Indonesia karya Prof. M.J. Melalatoa (Antrofolog UI), tidak ditemukan adanya kata blang tersebut dalam bahasa Gayo. Sebaliknya, yang ada kata belang yang bearti, pertama: lapangan, padang dan kedua: campuran makna (1982:28). Dari kajian fonetik atau bunyi, tekanan suara juga ada pada be bukan bl. Juga, tidak terjadi pelesatan pada kata ini “blang” tapi tetap dilafalkan belang. Jadi, dari mana asal mula kata tersebut? Dan apakah kata blang ini murni bahasa Gayo?

Beberapa penyebab kesalahan penulisan ini adalah, pertama, kurangnya  kesadaran orang  Gayo sendiri menyangkut identitas mereka sendiri. Ini dikarenakan tidak adanya transmisi budaya dari yang tua ke yang muda, minimnya acuan tertulis, serta pelaku budaya tua yang tinggal hitungan jari. Akibatnya, identias sosial orang Gayo begitu rapuh, tidak berciri dan melembaga dalam masyarakatnya.

Kedua, kekurang- ingin-tahuan dan ketidakpedulian dari orang Gayo  sendiri baik secara personal, keluarga, kelompok dan pemerintahan lokal-nya. Dikhawatirkan mind set, sikap, prilaku dan pola tindak seperti ini akan berevolusi pada hilangnya identitas suku ini. Bukti ini dikuatkan oleh kecilnya jumlah suku ini, karakter yang melekat; dinamis dan terbuka, serta pengaruh yang datang dari luar.

Berkaitan dengan topik ini, sebagai perbandingan di Takengon misalnya, saat ini, kata  Peteri Ijo, Singah Mata, Belang Mersa, masing-masing sudah ditulis dan dialihbahasakan menjadi Puteri Hijau, Singgah Mata dan Blang Mersa. Kenapa kata tersebut harus alih bahasakan? Kita punya aturan penulisan sendiri, tapi kenapa harus mengikut ke bahasa yang lain? Jangan-jangan, ke depannya, kata Takengon juga ditulis jadi Take n Gone, biar lebih bagus, prestius, high class dan mendunia (lihat www.gayolinge.com & www.yusradiusmanalgayoni.blogspots.com. Hal tersebut tak ubahnya seperti kata belang tadi dan kata-kata lainnya. Cukup disayangkan, perubahan-perubahan yang terjadi pada masyarakat ini tidak didukung dengan penguatan nilai-nilai dan kearifan lokal, pemertahanan ciri dengan konsep serta arah perubahan yang jelas. Sebaliknya, lebih pada perubahan yang ‘kebablasan,’ yang semakin jauh dari adat, norma, nilai dan adab suku ini.   

Ketiga, kekurangan pada orang Gayo sendiri yaitu minimnya penulis atau tradisi menulis lebih-lebih pada masa lalu. Transmisi dan akulturasi budaya terjadi hanya sebatas tradisi lisan, salah satunya melalui kekeberen, tanpa dipertahankan melalui kegiatan dan tradisi menulis. Alhasil, bisa kita lihat, kajian-kajian atau referensi menyangkut ke-Gayo-an masa lalu dan kini cukup terbatas. Terakhir, meski mengandung nilai-nilai kebenaran dan bernilai, bermula dari kekeberen, dan terakhir apa yang dimiliki suku ini akan menjadi kekeberen, ironis sekali. Pun kalo ada bukti otentik sejarah, tak ubahnya seperti ‘suhuf-suhuf’ yang masih tersebar.  

Melalui tulisan ini, diharapkan kepada reje, pemerintah kabupaten Gayo Lues dapat mempertimbangkan, mengkaji kembali penulisan kata Blang Kejeren dan kosa kata lainnya yang dari awal sudah salah. Lebih baik kita terlambat daripada tidak berbuat sama sekali. Dengan demikian, kekurangan, ketidaktahu dan ketidakmauan tahuan ‘kita’ tidak terulang lagi pada hari masa-masa mendatang.

 

*Mahasiswa Pascasarjana Linguistik USU & Ketua Yayasan Pusat Kajian Kebudayaan Gayo – Sumut.  Blog: www.yusradiusmanalgayoni.blogspots.com, e-Mail: algayonie@yahoo.com   
 
Aman oteh Kamis, 11 Juni 2009 , 11:54:32
Tulisan yang Benar untuk nama Takengon atau Takengen? Karna orang Gayo menyebut Nama ibukota Aceh tengah dgn sebutan \"Takengen\"moga saudara Yusra berkenan menjawb dlm bentuk tulisan. Berejen
Yusradi Usman al-Gayoni Kamis, 11 Juni 2009 , 11:54:32
Berejen sebeleme ku sawahen ku suderengku, Aman Utih. Gere muhali se ku tos sara tolesen masalah gerel ni kutente. Seni aku tengah mungamuli bahan; makalah, buku, skripsi, tesis dan disertasi tentang daerah te (Gayo+tanoh Gayo), ken bahan bacaen+koleksi. Sekiren ara se kiteb-kiteb esen, i keber ni kam pe se ku aku. Berejen ya seger mi rinen
ega Kamis, 11 Juni 2009 , 11:54:32
meskipun aq masih dianggap orang padang walaupun aq lahir n besar di gayo, gayo tuh udah menjiwa dalam hidupku, mank benar hal sepele terkadang terlupakan n kalau di biarkan bisa hilang budaya asli dari gayo itu sendiri, tulisan yang menarik yus... kembangkan lagi. i love gayo
Yusradi Usman al-Gayoni Kamis, 11 Juni 2009 , 11:54:32
Ma kasih ya Meg. Tulisan ini lahir waktu pas aku observasi bahasa di Gayo Lues (8-13/4/2009) dan tulisan tadi \"Penulisan Blang?\" dimuat di Majalah Lentayon (majalah pemkab Gayo Lues). Aku masih belum tahu, pa dah da Lentayon On Line. Tulisan, puisi+cerita pendek, sebagian di muat di sana. Aku juga masih belum tahu, pa dah da tindak lanjut prihal penulisan tadi. Gitu juga di Takengon, banyak kesalahan penulisan dan berbahasa yang terjadi (baca peringatan hari pahlawan: sebuah catatan di blog aku)..sayangnya, pemerintah kita tidak menyadari itu..yang penting, kita harus berbuat dan berkelanjutan meski kecil sifatnya. light the fire within..berejen
Kartika Kamis, 11 Juni 2009 , 11:54:32
Wah..sebagai generasi muda, kita harus menjaga akar budaya kita. Kalo enggak, bisa-bisa Malaysia bisa mencuri "Bahasa Gayo" dan diakui sebagai bahasanya. Wong jelas-jelas Bali letaknya di Indonesia masih diakui juga, apalagi "Bahasa Gayo".
Yusradi Usman al-Gayoni Kamis, 11 Juni 2009 , 11:54:32
sekali lagi, terima kasih buat sdr (i) sartika atas komentar2-nya. apa yang dibilang Ika cukup menarik dan itu sudah terjadi. warisan budaya daerah ini banyak yang "diambil" "orang lain." misalnya, kerawang (motif tradisional) juga sudah dimodifikasi di tempat lain, saman (sekarang lebih dikenal dengan saman Aceh), dulu pernah saya dengar (saat ke Banda Aceh) dari bpk. Munasco (dosen Unsyiah), ada orang yang dengan sengaja di pemerintahan yang mengubah pacuan kuda asalnya dari pesisir Aceh, bukan dari tanoh Gayo. kopi juga yang lebih dikenal kopi Aceh, baru-baru ni juga, kopi Gayo juga telah dijadikan merek Belanda. itu terjadi, karena kelalaian, kekurangperhatian,kekurangantanggapan, kekurangpedulian dan kekurangancepatan pemerintah dalam bertindak (termasuk di dalamnya membuat perencanaan yang bersifat tidak jangka panjang dan berkelanjutan)

seperti yang saya bilang, di tanoh Gayo umumnya, orang terutama pemerintah, legislatif dan "petinggi-petinggi lokal" lebih tertarik pada hal-hal yang bersifat fisik. yang non-fisik kurang diperhatikan seperti sejarah, budaya, bahasa, pendidikan, dan lain-lain. padahal, yang non-fisik tadi bisa menghasilkan non-fisik yang lebih besar dan banyak lagi, bahkan dengan kualitas yang lebih baik karena telah di dukung dengan sumber daya yang memadai, berkualitas, berkemampuan dan punya keterampilan lebih.

kita bisa lihat nanti, begitu PLTA Pesangan selesai, berapa banyak keterwakilan pekerja dari daerah (termasuk daerah serumpun; Bener Meriah, Gayo Lues, Aceh Tenggara, Lokop, Pulo Tige&Betung) duduk di PLTA? Kalau tidak disiapkan SDM dari sekarang, jangan harap, putra daerah bisa masuk dan menduduki jabatan2 penting. yang ada (sebaliknya) di bagian keamanan, kebersihan (jabatan rendah&"murahan") kalo pun nanti, ada putra daerah yang masuk, kita lihat lagi, berapa persentase, keterwakilan rakyat biasa dengan penguasa (orang-orang dekat petinggi, politisi dan berpengaruh di tingkat lokal)

Bisa juga apa yang terjadi pada Bali, terjadi juga pada Gayo (cukup menarik yang dikatakan Ika). karena secara historis, Raja Linge (dari kerajaan Linge)yang ke-13 (kalau tidak silaf) pernah memimpin armada Perang ke Malaka dan menjadi wakil di Kerajaan Johor (makammnya sekarang ada di kepuluan Lingga). Tapi, bagaimana hubungan kedua bahasa (Gayo&Malaysia/Johor/Malaka) tersebut? belum pernah dikaji (sepengetahuan saya). yang pasti, ada hubungan keduanya (pengaruh mempengaruhi). karena "serba kekurangan tadi" kurang dokumentasi. kalau pun ada "bes-besen/sekedar" "pelengkap administratif dan laporan" ke atasan yang sifat sifatnya "seremonial," "simbol," dan "formalitas" terima kasih
 
(6) Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
     P0F1M