Kamis, 18 Juni 2009 , 09:55:00
|
| |
|
|
|
Menggeliatkan Syair Gayo Islami
Oleh L.K.Ara
SYAIR Gayo bernafaskan Islam kembali menggeliat setelah lama hilang. Gagasan MAANGo (Majalis Adat Negeri Gayo) di pimpinan Mustafa AK dan Yusin Saleh berupa mengangkat lagi lewat gelar Syair Gayo yang diikuti seniman seni tradisi di seluruh Aceh Tengah. Dari hasil lomba yang dinilai oleh seniman terkenal seperti Ibu Hajar Laut Tawar, H. Aman Kanti dan Tgk Kamaruddin R diperoleh, empat pemenang. Masing-masing dari Kecamatan Bintang, diikuti Pegasing, Kebayakan dan Kecamatan Bebesen. Ini usaha yang patut diapresiasi ditengah arus deras kesenian luar yang menyusup ke daerah. “Seni Syair Gayo dibangkitkan sebagai banteng,” begitu antara lain kata H. Drs Jauhar Ali, wabub Aceh Tengah yang membuka lomba itu.
Syair dalam bahasa Arab disebut shi’r yang secara umum bermakna puisi (a poem, poetry). Sedangkan sha’ir bermakna penulis puisi, penyair atau penyajak (a poet). Perkataan sya’ir untuk vokal orang Melayu nampaknya lebih sesuai. Sehingga menjadi terbiasa disebutkan syair untuk karya puisi dan penyair sebutan untuk penulisnya. Dari pendapat beberapa ahli dikatakan, syair Melayu, tidak berasal dari syair Arab atau Parsi, walaupun kaitannya ada. Permulaan penulisan syair dilakukan Hamzah Fansuri seorang penyair sufi Aceh yang dari karya-karyanya nampak ada pengaruh puisi Arab-Parsi.
Tentang istilah syair ini menarik juga pendapat Dr. Harun Mat Piah, ‘Suatu hal lagi yang harus dipertimbangkan bahwa syair, dalam peringkat awalnya adalah suatu genre sastera lisan, sama seperti genre-genre sastra yang lain atau puisi, seperti pantun, mantera, teromba dan lain-lain. Karena itu menyebutkan sesuatu kata atau istilah tidak berdasarkan penglihatan tetapi pendengaran; dan penyebutannya itu lebih tertakluk kepada sistem bunyi bahasa yang berkenaan, khususnya bahasa pertuturan atau lisan. Justru itu syair atau syi’r disebut juga sa’e atau sa’iyo dalam bahasa Melayu, sayer dan singir (atau geguritan) dalam bahasa Jawa’.(Harun Mat Piah, l989, 2ll,2l2).
Mengikuti jalan pikiran DR Harun Mat Piah itu, maka syair bagi orang Gayo yang menggunakan sastra lisan menyebutnya menjadi syair atau syaer. Bentuk syair =kekata atau ‘Syaer Gayo’ sebagaimana halnya bentuk syair Melayu umumnya, terdiri dari puisi empat baris. Namun ada usaha penyair menghasilkan karya dengan baris yang bebeda-beda. Seperti contoh berikut.
sara riwayat masa Rasulullah
i nenggeri Madinah nge ara terjadi
Nabi Muhammad belum kubelang male
semiang hari raya haji
nge mari semiang nabi pe ulak
i engone kekanak dele penadi
i lahni dene nge mute tamun
enge merun-erun kusokuini
maklum la kekanak turun rerayan
menyeluk pekayan si jeroh belangi
(Chalidin l99l)
Dari segi bentuk penggalan syair ‘Cerite Anak Yatim’ ciptaan Tgk. Chalidin (lahir th l920) ini, tergolong syair dua baris sebait. Bila kita lihat dari segi isi merupakan kisah di zaman Nabi Muhammad.
Ada syair empat baris dalam satu bait dengan rima a-a-a-b.
Ke anak Edem ulak ku Tuhen
bier rawan atawa banan
oya nge putus bene amalan
melengkan taring tulu perkara
Pertama sedekah jeriah
tengah i denie mera posah-osah
ku mesjid atawa ku mersah
mera munosah ku jelen agama
(Harun Rasyid, l980, 53)
Petikan syair ‘Apabile Mate Anak Edem’ karangan Tgk. H.Harun Rasyid ini berisi kisah yang menceritakan prikehidupan manusia. Bila ia meninggal maka putuslah hubungannya kecuali dengan tiga hal. Tiga hal ini diceritakan satu persatu yang dimulai dengan sedekah dan seterusnya. Juga syair empat baris dalam satu bait dengan rima a-b-a-b.
Sagi pendari munyamut perkataan
ike manat ni seltan kami jamuri
kami tiro tulung mudah-mudahan
kami tasonen kujantung hati
Kadang nge beta tekedir ni Tuhen
keturahe seltan minah nenggeri
enta kune oyape gere tertehen
gelah kami julen bersagi pendari
(Abdurrahim Daudy, l979, 54)
Syair dua bait diatas merupakan petikan dari syair berjudul ‘Ara Penyakit Ara Uak’ karya Tgk. Abdurrahim Daudy. Di dalam syair ini di ceritakan bahwa Nabi Muhammad sudah menyatakan kepada semua orang bahwa Tuhan telah menurunkan penyakit beserta dengan obatnya. Di ceritakan pula bahwa yang mengetahui obat penyakit adalah orang yang mengetahui yakni tabib.
Tema dan isi Syaer Gayo merupakan tafsiran kitab suci Alquran yang menyampaikan petuah-petuah agama, meriwayatkan kisah hidup nabi dan para sahabat. Bagaimana hubungan anak dan orang tua, sopan santun antara suami isteri dan keluarga secara keseluruhan dapat juga kita lihat diungkap lewat syaer Gayo. Melihat hasil karya para penyair, dapat digolongkan dalam bentuk syair sejarah, syair keagamaan dan syair nasihat. Satu contoh syair sejarah yang cukup populer di Negeri Gayo, ditulis oleh penyair Tgk. Abdurrahim Daudy berjudul, ‘Sejarah Daerah Dan Suku Gayo’. Petikannya sebagai berikut,
Tekala uren rane remane
asalni ni Gayo mulo pertama
daerah kiteni lauten ijo
gere ilen mutuho uken urum toa
Tekala kerpe jarum jemarum
gere ilen malum sara urum roa
ike manusiepe gere ilen murum
gere ilen mepun jenis ni bangsa
Ara roa jema i nenggeri Rum
jema wa murum sara ine ama
keta si bensu memegang hukum
abange urum rakyat jelata
(Abdurrahim Daudy l979, )
Ada syaer agama juga syaer nasihat yang berisi pengajaran kepada semua orang. Di dalam syair nasihat biasanya isinya disampaikan secara umum kepada pembaca. Namun ada yang khusus ditujukan misalnya kepada kanak-kanak, remaja dan orang dewasa lelaki dan perempuan. Syair nasihat umumnya disukai orang seperti kata C.Hooykaas, ‘Bentuk syair itu amat digemari untuk syair nasihat, oleh karena mudah dihafal’( C.Hooykaas, l98l). Syaer Gayo sejak dahulu disampaikan dengan cara lisan.
|
| |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|